Senin, 26 Januari 2015

PESONA PULAU MENJANGAN, BALI BARAT

CATATAN PERJALANAN KE TAMAN NASIONAL BALI BARAT

Pulau Menjangan

        Menjangan adalah sebuah pulau yang letaknya di sebelah barat laut Pulau Bali.  Pulau ini masih dalam kawasan Taman Nasional Bali Barat, tidak berpenghuni tapi memang didesain khusus untuk ramah bagi pengunjungnya. Berawal dari Pulau Tabuhan yang sudah kami kunjungi beberapa bulan yang lalu, kami penasaran ingin mengunjungi Pulau Menjangan yang konon ceritanya lebih eksotik dan lebih asyik untuk snorkling. 
       Kami memutuskan untuk berangkat hari Minggu pagi tanggal 25 Januari 2014,  dari Jember pukul 06.00 WIB pagi menuju Pantai Kampe yang letaknya setelah Watu Dodol. Tepatnya di desa Bangsring, Wongsorejo. Naik kapal fiber punya nelayan yang berkapasitas 10 org, dengan fasilitas tour leader, makan siang dan alat snorkling lengkap. Kami harus mengeluarkan uang Rp. 1.500.000,- untuk berangkat kesana. Dengan senjang waktu 8 jam yang kami dapat. 

Kapal nelayan otok-otok yang siap mengantar menuju Menjangan

Keren kan?! Menyebrangi Selat Bali dengan Sang Merah Putih

       Penyebrangan dari Pantai Kampe ke Pulau Menjangan memakan waktu sekitar 1 jam an. Suasana waktu itu sangat cerah sekali, sehingga langit benar-benar terang benderang dengan segerombolan awan  yang menghiasinya. Sedikit khawatir dengan ombak yang mulai mengguncang perahu kami. Tapi tetap saja narsis, berfoto ria.
      Akhirnya sampai juga di Pulau Menjangan... 

Ikan hias yang banyak di bawah kapal

Siap untuk bersnorkling ria

          Ternyata pulau ini memang begitu eksotis, apalagi turun dari kapal kami melihat ikan-ikan hias dibawahnya. Di Menjangan juga ada bale bengong, gasebo untuk berteduh wisatawan yang ingin menikmati keindahan lautnya. Tak sabar ingin segera menceburkan diri ke laut. Melihat pemandangan yang begitu menakjubkan.

Suasana panas tak pernah membuat kami takut untuk narsis

 Nekat menyelam tanpa pelampung

Indahnya taman laut di Menjangan

 Bintang Laut...patrick euy !!

 Snorkling sambil narsis

           Meski cuma bisa modal renang dikit-dikit, kami bisa melihat pemandangan bawah laut dengan bantuan snorkling.  Denga jarak sekitar 7 meter dari garis pantai sedalam 1 meter, kami sudah bisa menikmati terumbu karang di Pulau ini. Bagi yang bisa berenang bisa loncat dari kapal sekitar 5 meter. Sensasinya wah...tiada duanya.

Tidak sabar untuk segera menceburkan diri ke laut

 Sensasinya....segeeeerrrr bingitzzz !!!

           Bagi yang gak berani nyebur langsung ke laut, bisa jalan pelan-pelan menuju laut. Tapi hati-hati banyak karang-karang tajam dan bulu babi. Jadi gak asyik kalo sampai menginjaknya. Snorkling berjam-jam di pantai ini, betah banget dan gak terasa panasnya semakin mencetar. Bikin kulit jadi tambah item. Semakin siang semakin banyak wisatawan yang berdatangan.

 Jalan kaki menuju ke laut juga asik lho

Lihat penghuni bawah laut yang seperti ini...jadi ngeri

 Ternyata asik juga bersnorkling di Menjangan

 Capek snorkling, narsis dulu ah...!!!

Menyelam di Selat Bali lewat Menjangan

          Setelah puas bersnorkling, kami makan siang bersama dengan para crew Menjangan. Spot selanjutnya adalah trekking menuju tempat sembahyang orang Hindu. Menuju ke hutan mangrove di sisi lain Pulau Menjangan. Harus pakai alas kaki yah, karena kami akan melewati jalan di pinggir pantai menuju hutan. 

 Mari kita mulai trekking dari arah sini

Inilah jalur hutan mangrove, disini banyak perkumpulan menjangan

 Inilah akibat tidak memakai alas kaki....panaaassss !!!

 Diantara rumput ilalang, kami masih merasakan kebersamaan

 Makam petinggi Umat Hindu

 Pulau Bali dilihat dari Pulau Menjangan

 Banyak Pura disini, tempatnya agak mistis juga jadinya

 Hutan Mangrove di Pulau Menjangan


 Indah banget....cool rasanya

Pura Ganesha yang kami lewati ketika pulang dari Menjangan

Akhirnya....dengan rasa puas kami pulang
Menjangaaaaannnn.....I miss U !!!

Sabtu, 24 Januari 2015

SURGA DI PULAU SEMPU, MALANG SELATAN

CATATAN PERJALANAN : PERJUANGAN MENUJU PULAU SEMPU

3-5 Januari 2015


 Segara Anakan

       Pulau Sempu adalah wisata yang memikat dan sekarang lagi naik daun di kalangan traveler. Letaknya di Malang Selatan. Pulau Sempu yang keadaannya masih perawan dan tidak berpenduduk ini adalah merupakan salah satu cagar alam yang harus dilindungi.  Dan inilah buah dari perjuangan menuju Pulau Sempu, surga kecil yang membuat semua orang ingin melihatnya. Sebuah segara anakan dengan hamparan pasir putih. Woww...kereenn !!! 
         Dengan rasa penasaran yang cukup dalam, aku mengajak team adventure yang tergabung dalam FAZDHIANA ADVENTURE untuk mengadakan perjalanan ke Pulau Sempu, Malang Selatan. Dengan niat camping, kami berlima belas berangkat menuju Pantai Sendang Biru. Berangkat dari Jember, pukul 21.00 WIB malam melewati jalur Piket 0 yang lebih dekat dengan Kota Dampit, Malang Selatan. Sampai Dampit kira-kira pukul 02.00 WIB dini hari. Lalu kami langsung menuju Pantai Sendang Biru. Ternyata jauh juga, perjalanannya memakan waktu hampir 3 jam. Sampai Sendang biru, kami masih mencari sarapan dan prepare ganti kostum plus jas hujan. Karena waktu itu pas hujan deres banget. Sambil menunggu kapal yang mau mengantar kami menyebrang, kami melihat-lihat areal pantai ini. Kami membayar kapal Rp. 170.000,- untuk menuju ke Pulau Semut.

Pulau Semut

        Setelah sampai di Pulau Semut, kami berdoa dan bersiap-siap berjuang menyusuri jalan yang penuh lumpur dan licin banget. Menurut cerita orang-orang yang pernah kesini, jalan menuju Pulau Sempu sekitar 2 sampai 3 jam. Bisa dibayangkan, jalur trekking ke Pulau Sempu pada waktu musim hujan begini sangatlah licin. Jadi tidak mungkin kami sampai dalam waktu secepat itu. Prediksi kami malah sampai segara anakan sekitar 5 jam.

 Trekking ke Pulau Sempu pas hujan

 Jalan yang mengerikan

Berhenti sejenak melepas lelah

         Perjalanan yang mengerikan, menyusuri hutan lepas tanpa alas kaki itulah yang membuat kami lama berjalan. Strategi yang salah. Inilah pengalaman pertama kali menuju Pulau Sempu. Penuh perjuangan baik fisik maupun tenaga. Untungnya sudah tidak hujan lagi, jadi kami bisa berjalan tanpa memakai jas hujan. Banyak pohon dan ranting patah. Kami menikmati setiap perjalanan ini, sampai akhirnya kami melewati pos-pos terakhir. Jalan yang berupa tebing-tebing yang bisa dilewati satu orang saja. Akhirnya sampai juga kami di Segara Anakan. Hampir lebih dari 5 jam kami berjalan menyusuri hutan dan tebing tanpa alas kaki. It's Amazing !!!

Sampai di Segara Anakan

        Pukul 16.00 WIB  kami sampai dan segera membuka perbekalan, mendirikan tenda, dan mulai masak-masak terutama masak air untuk menghangatkan badan. Kami persiapan beli aqua banyak banget, karena di Pulau tidak ada warung ataupun air tawar untuk minum dan masak. Setelah itu kami berlomba-lomba lari menuju segara anakan untuk mandi dan membersihkan diri. Hmm, segernya....meski hawa sudah mulai dingin, sehingga airnya pun ikut dingin.

 
 Airnya jadi keruh kena lumpur...hikss

Senengnya bertemu air setelah bertemu lumpur

Setelah puas bermain air laut

         Pas malam tiba, suasana tambah seru karena banyak pengunjung yang datang dan juga nge camp ramai-ramai di Pulau ini. Jadi kami gak kesepian malam ini, karena air laut mulai pasang dan suara petir mulai datang. Yah, hujan ternyata...akhirnya kami berlindung di tenda masing-masing. Untungnya hujannya pengertian..hehehe. Cuma sebentar saja hujan datang, akhirnya kami bisa mengobrol diluar tenda sambil diiringi suara ombak dari seberang sana. Segara Anakan adalah sebuah laguna atau air laut yang terkurung di daratan dan dibatasi dengan bukit-bukit dan batu karang yang mengelilinginya.
          Air laut yang masuk ke dalam Segara Anakan berasal dari karang yang tengahnya berlubang dengan diameter sekitar 2 meter. Setiap ada terjangan ombak, air laut tersebut masuk ke dalam Segara Anakan melalui lubang tersebut dengan menghasilkan busa putih yang selalu dinantikan oleh para pengunjung untuk bermain dan berfoto.
          Akhirnya pagipun tiba, kami terbangun dan membuka mata menyaksikan sesuatu yang benar-benar indah. Inilah ternyata surga yang terbayarkan melalui perjalanan yang membutuhkan perjuangan. Kami beramai-ramai segera menceburkan diri ke laut yang tak berombak. Sebelum akhirnya kami meninggalkan Pulau Sempu.

 Samudra hindia yang begitu luas

 Melihat Segara Anakan dari atas bukit

I love Sempu..I'll be back..

Jumat, 23 Januari 2015

BADAI DI KAWAH IJEN, BONDOWOSO

CATATAN PERJALANAN KE KAWAH IJEN, BONDOWOSO 27 Desember 2014

     Ini kedua kalinya aku ke Kawah Ijen dalam bulan yang sama bulan Desember. Dan kali ini perjalanan yang aku rasakan sungguh menantang. Aku berangkat berenam dengan teman-teman lama, teman SMP. Judulnya sih Reuni, tapi kami ingin kali ini bertemu dalam sebuah tema "Adventure". Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Kawah Ijen. Kami berangkat pukul 17.00 WIB dari Jember, dengan kondisi hujan begitu derasnya. Dengan sedikit hawa nekat, kamipun meluncur menuju TKP lewat Bondowoso. Perjalan kami memakan waktu sekitar 4 jam sampai di Paltuding. Disana ternyata tidak hujan, dan kami disambut dengan ramainya areal perkemahan dan pendaki Wisata Kawah Ijen. Kamipun segera mendirikan tenda seperti halnya pendaki yang lain.


Setelah tenda siap, kami berenam beristirahat mempersiapkan fisik dan tenaga untuk pendakian ke puncak nanti malam dengan makan bersama dan tidur sejenak. Berharap malam nanti kami beruntung dapat melihat blue fire di kawahnya. 


Pukul 01.00 WIB dini hari, kami bangun dan membongkar tenda untuk persiapan pendakian. Waktu itu hawanya gak seberapa dingin, dibandingkan Ijen pas musim panas. Jadi dengan pede nya aku memakai celana 7/8 saja. Akhirnya, pelan-pelan kami berjalan menuju jalan setapak yang gelap. Karcis Ijen waktu itu tetap Rp. 7.500,- walaupun pas liburan sekolah.

 Ternyata panas sekali hawanya pas kita jalan di tanjakan. Nafas sedikit tersengal, karena notabene aku dan teman-temanku Mantan Pecinta Alam 20 tahun yang lalu. Jadi, usia gak bisa dibohongi ya...hahaha.

Di pos-pos kita beristirahat sebentar untuk mengatur nafas dan meluruskan kaki. Sampai di Pos Bunder, istilah di Kawah Ijen Pos Putaran Pertama yang maksudnya kalau pendaki udah sampai situ berarti udah sekali putaran lagi sampai ke puncak Ijen. Tiba-tiba cuaca berubah, gerimis datang. dan jalanan jadi licin. Bahkan ada berita diatas longsor dan kabut. Kami hanya bisa berdoa sambil jalan dan memasang jas hujan. Semoga tidak terjadi apa-apa sampai tujuan nanti.


Sampai puncak, ternyata jalanan benar-benar berkabut tebal dan banyak yang longsor. Dinginnya mencapai 2 derajat celcius. Bahkan kawahpun tak terlihat sama sekali. Angin begitu kencangnya, sehingga memaksa kami untuk berlindung di kolong-kolong tanah. Pupus sudah harapan untuk melihat blue fire. Hanya ada satu harapan, semoga hari ini kami semua selamat.

 Menunggu sunrise itulah misi kami hari ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 WIB pagi, seharusnya matahari sudah mulai menampakkan dirinya. Tapi kali ini yang ada hanya gelap dan berkabut. Kami beranjak dari persembunyian dan mencoba untuk bangun dan menggerakkan badan agar hawa dingin tidak terlalu menyiksa. Ternyata hal ini diikuti oleh pendaki yang lain. Wah, keren..!! Serasa jadi pasar kaget Kawah Ijen pagi ini, ternyata banyak sekali pendaki yang bersembunyi tadi malam. Disisi lain masih banyak juga pendaki yang menuju ke puncak dari bawah sana, terlihat dari atas sungguh indahnya. Sinar headlamp yang mereka pakai membawa sinar menuju kawah yang masih gelap karena kabut.





Setelah puas bernarsis ria sambil menggerakkan badan bersama-sama, teman-teman tak lupa menunaikan kewajiban sholat Subuh yang mungkin sudah terlewat, karena tidak terdengar adzan dan waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB lebih. Kami juga bersyukur melewati malam tanpa kurang suatu apapun. Walaupun ada badai di puncak gunung.


Kami sudah tidak sabar ingin cepat turun, karena asap belerang yang sudah mulai memadati kawah yang bercampur kabut. Gerimis hujan juga mulai datang. Benar-benar tidak bersahabat cuaca di puncak Ijen kali ini. Belum lagi hawa dingin yang mulai menusuk tulang-tulang, sampai tangan dan kaki jadi beku seperti es.


Pukul 07.00 WIB lebih dikit, kami berenam turun. Teman kami yang dua turun duluan dengan tidak sabar, sedangkan kami berempat jalan pelan-pelan sambil foto-foto.



 Wah, inilah bonus yang diberikan Tuhan ke kami...ternyata suasana Ijen pas turun begitu cerahnya. Walaupun muka kami sudah kuyu karena rasa kantuk, dingin, dan sedikit takut juga dengan kondisi semalam, tapi kami masih bersemangat untuk menikmati keadaan alam disepanjang perjalanan. Banyak moment yang menjadi inspirasi untuk berfoto ria, diantaranya pohon-pohon besar yang  tumbang dimana-mana.






Adventure is never dies...begitu indahnya pesona Kawah Ijen walaupun badai telah menghampirinya.